Reruntuhan Kota Mesir Kuno Ditemukan Dekat Oasis

January 31, 2008 at 12:00 pm (Uncategorized)

Reruntuhan Kota Mesir Kuno Ditemukan Dekat Oasis
EAD
Foto yang dirilis Dewan Purbakala Mesir (EAD) memperlihatkan para arkeolog sedang menggali reruntuhan kota kuno di Kom Oshim, barat laut Kairo.

KAIRO, SELASA – Tim arkeolog AS menemukan reruntuhan kota kuno dekat Oasis Fayyum di kawasan bergurun Mesir. Kota tersebut diperkirakan berusia 7000 tahun atau dibangun saat pertanian mulai berkembang untuk pertama kalinya di Mesir.

“Survei elektromagnetik menunjukkan adanya deretan dinding dan jalan di wilayah Karanis yang mirip dengan konstruksi bangunan pada periode Greco-Roman,” ujar Zahi Hawass, Kepala Dewan Tinggi Purbakala Mesir, seperti diliris AFP, Selasa (29/1).

Reruntuhan kota kuno tersebut masih tertimbun di dalam pasir dan penggalian masih terus dilakukan. Gambaran terperinci struktur kota tersebut akan diumumkan secepatnya.

“Artifak-artifaknya terdiri dari reruntuhan pagar dan rumah terracota atau batu gamping, termasuk banyak gerabah, pondasi tungku dan penyimpan biji-bijian,” tambah Hawass. Benda-benda antik tersebut berasal dari Periode Neolithic antara 5200-4500 tahun sebelum Masehi.        

Sementara itu, direktur lembaga purbakala setempat, Ahmed Abdel Alim, mengatakan reruntuhan kota tersebut ditemukan hanya tujuh kilometer dari Danau Fayyum. Ia memperkirakan kota tersebut mungkin berada di tepian oasis saat ditempati.(AFP)

Sumber: Kompas

Permalink Leave a Comment

Kabut Misterius di Mars dari Es Kering

January 31, 2008 at 11:41 am (Uncategorized)

Kabut Misterius di Mars dari Es Kering
ESA/OMEGA
Awan yang terekam di atmosfer Mars dekar garis ekuatornya ini tersusun dari karbon dioksida padat (es kering).

Jumat, 18 Januari 2008 | 17:11 WIB

VERSAILLES, JUMAT - Atmosfer Mars yang tipis dan kering secara umum tidak memiliki awan seperti atmosfer Bumi. Namun, hasil pengamatan baru memperlihatkan awan yang tersusun dari es kering sesekali terjadi sehingga hingga menghalangi pengamatan ke permukaan yang cukup luas di planet merah tersebut.

Kabut misterius tersebut telah terekam sejak beberapa tahun lalu, namun para astronom belum mengetahui penyebabnya. Pengukuran baru dari instrumen yang dibawa wahana pengorbit Mars Express menunjukkan bahwa awan tersebut tersusun dari karbon dioksida padat yang dikenal sebagai es kering sdi Bumi.

“Ini merupakan kali pertama awan es karbon dioksida direkam dan diidentifikasi,” kata Franck Montmessin dari Service d’Aeronomie, Universitas Versailles, Prancis, yang melaporkan risetnya dalam Journal of Geophysical Research. Hasil pengamatn terakhir sangat berarti karena tidak hanya merekam bentuk, tapi juga ukuran dan kerapatannya.

Karakteristik awan karbon dioksida ini di luar dugaan karena tebalnya mencapai ketebalan 80 kilometer dan lebarnya beberapa kilometer. Selain itu, partikel-partikel penyusunnya lebih besar dari perkiraan  karena berukuran lebih dari satu mikron (seperseribu milimeter). Partikel-partikel sebesar ini umumnya tidak ditemukan pada atmosfer bagian atas karena terlalu berat sehingga mudah jatuh.

Bayangan awan di mempengaruhi suhu di permukaan Mars. Suhu di bawahnya bisa turun 10 derajat Celcius dari suhu sekitarnya. Fenomena ini dapat memengaruhi iklim global di Planet Mars.

“Suhu rendah di waktu malam dan relatif tinggi di siang hari menyebabkan gelombang naik turun di atmosfer,” ujar Montmessin. Keadaan ini menciptakan bentuk aliran udara konveksi di atmosfer Mars. Konveksi atau aliran udara hangat ke atmosfer merupakan dasar terjadinya fenomena cuaca di Bumi.

Di Mars, perubahan cuaca maupun iklim juga terjadi. Karbon dioksida terangkat ke atmosfer dan pada ketinggian tertentu terjadi kondensasi. Terjadi pelepasan panas sehingga gas dan karbon dioksida yang membeku naik ke lapisan atmosfer lebih tinggi.

Jika di Bumi, uap air terkondensasi dekat partikel-partikel debu atau garam membentuk awan, di Mars komposisi partiekl lainnya yang membentuk awan belum diketahui. Para peneliti mengatakan, bisa saja debu dari pecahan meteorit atau kristal-kristal es.(SPACE.COM)

Sumber: Kompas

Permalink Leave a Comment

Sosok Alien Terekam di Planet Mars

January 31, 2008 at 11:19 am (Pengetahuan)

Sosok mirip seorang manusia yang duduk di atas batu terekam dalam foto yang diambil wahana penjelajah Spirit di permukaan planet Mars.

Kamis, 24 Januari 2008 | 12:34 WIB
WASHINGTON, KAMIS – Apakah Planet Mars begitu sunyi tanpa kehidupan sama sekali? Perdebatan tentang hal tersebut semakin menghangat kembali saat foto sosok alien di permukaan Planet Mars beredar di internet.

Di dalam foto tersebut tampak sosok yang mirip dengan manusia tengah duduk di atas pinggiran batu. Foto yang dirilis NASA itu direkam wahana penjelajah Spirit tak lama setelah sukses mendarat di permukaan Mars pada 24 Januari 2004. Spirit adalah salah satu dari wahana kembar milik NASA yang masih aktif menyusuri permukaan Planet Mars.

Munculnya foto tersebut langsung mendapat banyak tanggapan dan memicu berbagai spekulasi melalui posting blog dan forum di Internet. Sebagian blogger menilai sosok tersebut hanya trik kamera, sedangkan lainnya tetap yakin sebagai bukti keberadaan alien.

Ada yang menilai bentuknya mirip kurcaci, ada pula yang yakin sebagai sosok Bunda Maria. Orang-orang yang percaya makhluk misterius berpendapat itu adalah sosok Bigfoot, makhluk gunung berjalan tegak dan berbulu lebat yang memicu banyak legenda di berbagai belahan dunia.

Namun, rata-rata banyak yang sepakat bahwa bentuknya mirip sekali dengan patung Little Mermaid, karakter Putri Duyung yang ada di ibukota Denmark, Kopenhagen. “Mungkin dibuat peradaban alien yang kemudian meninggalkan Mars dan tinggal di Denmark,” tulis salah satu komentar di Internet.

Namun, pendapat yang ditulis di Badastromy.com memberikan tanggapan dari persepektif lain. “Seorang manusia? Ia hanyalah batu berukuran kecil yang tingginya beberapa inci. Jaraknya hanya beberapa kaki dari wahana penjelajah tersebut.”

Terlepas dari perdebatan tersebut, NASA mungkin tidak menganggap ada sesuatu yang aneh dalam foto ini. Manusia tidak mungkin hidup di permukaan Mars dengan kondisi saat ini, kecuali organisme renik yang tahan terhadap lingkungan yang ekstrim. Meskipun demikian, bukti-bukti kehidupan di Mars masih terus dicari.(BBC/WAH)

Sumber: Kompas

Permalink Leave a Comment

Cyber Sex di Persimpangan, Antara Mendidik dan Merusak

January 30, 2008 at 8:14 pm (Kesehatan)

k REG INTIPS KIRIM ke 9858 (TELKOMSEL, INDOSAT, XL, FLEXI, FREN & THREE)

 


Meningkatnya kemudahan mengakses informasi dan banyaknya kesempatan mendapatkan berbagai peralatan serta waktu memberi efek yang cukup mengkhawatirkan bagi anak-anak muda jaman sekarang.

Androlog dari Fakultas Kedokteran, Universitas Katolik Fu Jen, Taiwan Dr. Han Sun Chiang, MD menyebut bahwa dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada 2249 siswa sekolah menengah atas di Taipei terungkap sekitar 57 persen para siswa ini telah terbiasa dan merasa nyaman berkencan dengan orang asing lewat internet dan bahkan melakukan hubungan seksual dalam semalam. Yang memprihatinkan, sekitar 5 persen dari mereka bahkan telah terbiasa dengan hubungan seksual semacam.

“Internet memang sangat membantu, namun sebaliknya penggunaan yang tidak benar justru menambah masalah sosial. Sekarang ini kekerasan seksual malah meningkat, kehamilan yang tidak diinginkan lebih kerap terjadi, penularan penyakit menular seksual tidak bisa terelakkan lagi,” jelas Han dalam Kongres.

Karena itu, tambah Han, inilah kesempatan baik untuk memanfaatkan internet sebagai ruang konsultasi sekaligus sarana pendidikan seksual bagi para remaja. Bahkan bagi orang dewasa, cyber sexual counseling atau konsultasi lewat internet merupakan sarana yang sangat membantu.

Di Taiwan, menurut Han, situs resmi yang dikelola pemerintah yang menyediakan informasi seputar bidang urologi dan seksual telah didirikan sejak tahun 2004. Sampai Februari tahun 2005 lalu, lebih dari 30 pertanyaan terkumpul dan 86 persen berisi seputar persoalan seksual.

“Kita percaya bahwa dalam era internet ini, cyber sex menjadi tren bagi berkembangnya kebiasaan seksual. Namun dengan internet pula, pendidikan lewat sarana ini pun bisa diterapkan pada generasi muda. Di masa yang akan datang, campur tangan media seperti konsultasi seksual lewat internet pasti akan berjalan lebih efektif lagi untuk menyelesaikan berbagai masalah seksualitas dalam masyarakat kita,” jelas Han panjang lebar.

Internet memang menyediakan kesempatan bertemunya antarpribadi, tidak pandang tempat karena akses sudah bisa dilakukan di mana-mana dan peralatan yang semakin portable, rahasia terjaga, dan yang paling penting informasi bisa disimpan dan didokumentasikan.

Sumber: GHS

Permalink Leave a Comment

“Super-Earth” dan Nasib Bumi-Manusia

January 30, 2008 at 7:39 pm (Pengetahuan)

Kehidupan di Bumi semakin berada dalam risiko untuk disapu oleh bencana, seperti pemanasan global mendadak, perang nuklir, virus hasil rekayasa genetika, dan bahaya lain.” (Fisikawan Stephen Hawking, sekembali dari penerbangan gravitasi nol, 26 April 2007)

Apa yang menjadi kerisauan ahli fisika kenamaan Inggris itu sebenarnya juga telah cukup lama menjadi kerisauan banyak orang. Bagaimana cara untuk menyelamatkan ras manusia kalau Bumi sudah tak bisa dihuni lagi?

Seperti juga telah disinggung oleh Hawking, yang dikenal luas di dunia karena penelitiannya di bidang “lubang hitam” dan bukunya yang laris, A Brief History of Time, pemanasan global bisa menjadi pemicu yang membuat Bumi tak bisa lagi dihuni. Penyebab lain bisa jadi karena Bumi sudah tak sanggup lagi menopang kehidupan karena jumlah manusia jadi terlalu banyak dan tak tersedia teknologi dan lahan lagi untuk menumbuhkan tanaman pangan yang dibutuhkan manusia. Atau, lingkungan hidup sudah rusak terlalu parah akibat polusi sehingga—misalnya saja—tak ada lagi persediaan air bersih yang mencukupi untuk menopang kehidupan.

Hawking—dengan kondisi fisik yang terbatas—pekan silam terbang dengan jet khusus yang memungkinkannya merasakan kondisi tanpa gaya berat atau gravitasi nol. Pertama, ia—sebagai empu ilmu tentang gravitasi—ingin merasakan efek ketiadaan gravitasi. Kedua, ia pro terhadap koloni angkasa, dengan latar belakang seperti yang ia kemukakan di atas bahwa pada satu titik nanti Bumi tidak sanggup lagi menopang kehidupan.

Bumi lain

Dalam konteks koloni angkasa, pikiran praktis mungkin membawa ingatan manusia pada Bulan, atau planet Mars, sejauh yang terpikir adalah lingkungan Tata Surya. Pada lingkungan ini jelas Merkurius yang paling dekat dengan Matahari mustahil diperhitungkan karena suhu demikian panas pada siang hari (350 derajat Celsius) dan amat dingin pada malam hari (minus 170 derajat Celsius). Demikian pula Venus yang diselimuti awan karbon dioksida. Planet jauh seperti Jupiter dan Saturnus dingin dan dipenuhi metana.

Bahkan, untuk bisa tinggal di Bulan dan Mars, manusia harus bisa lebih dulu menciptakan lingkungan yang “bisa ditinggali” seperti halnya Bumi, khususnya dalam hal penyediaan udara untuk bernapas dan bahan pangan untuk kelangsungan hidup. Ini tentu perlu investasi besar.

Jadi paling masuk akal tentu koloni ke planet lain yang kondisinya sama atau sangat mirip dengan Bumi. Hanya saja, kalaupun ada, planet semacam ini pasti di luar Tata Surya (ekstra-solar), yang jaraknya pasti masih di luar jangkauan teknologi manusia yang ada sekarang ini.

“Super-Earth”

Di antara miliaran bintang yang ada, kebolehjadian menemukan planet seperti Bumi jelas ada, dan salah satunya memang telah ditemukan, yakni planet yang mengelilingi bintang redup Gliese 581, yang terletak pada jarak 20,5 tahun cahaya dari Bumi, dan berada pada Rasi Libra. (Catatan: Jarak Bumi-Gliese 581 adalah setara dengan 20,5 x 9.500.000.000.000 kilometer)

Seperti kita baca beritanya di harian ini pekan silam, penemuan dilakukan dengan teleskop European Southern Observatory (ESO) bergaris tengah 3,6 meter yang ada di Gurun Atacama, Cile.

Salah satu yang menjadi landasan bagi para astronom penemu untuk mengatakan planet tersebut serupa dengan Bumi adalah kemungkinan adanya air yang mengalir di permukaannya. Ini bisa terjadi karena suhu planet tersebut sedang, artinya tidak seekstrem Merkurius. Stephane Udry dari Observatorium Geneva yang mengepalai penulisan laporan penemuan ini di jurnal Astronomy & Astrophysics terbitan mendatang menyebutkan, suhu rata-rata planet ini antara 0 derajat dan 40 derajat Celsius, jadi memungkinkan adanya air dalam wujud cair.

Dengan adanya air dalam bentuk cair, ada pula kemungkinan terdapat kehidupan di planet yang oleh para astronom lalu disebut “Super-Earth” ini. Lebih jauh lagi disebutkan bahwa radius planet hanya 1,5 kali radius Bumi, dan model yang dibuat memperlihatkan planet ini merupakan planet batuan—seperti halnya Bumi—atau tertutup oleh lautan.

Karena sifat khasnya ini, planet Bumi Super diyakini akan jadi fokus penyelidikan misi antariksa mendatang, kata Xavier Delfosse, anggota tim penemu dari Universitas Grenobles. Misi yang dimaksud Delfosse terutama yang bertujuan untuk mencari kehidupan ekstraterestrial (di luar Bumi).

Dengan teleskop yang akan dipangkalkan di ruang angkasa nanti akan coba dilacak apakah ada jejak atau “tanda tangan” yang bisa diasosiasikan dengan proses biologi. Seperti dilaporkan BBC News (25/4/2007), observatorium akan coba melacak ada tidaknya gas atmosfer seperti metana, bahkan mungkin juga marka khlorofil, pigmen dalam tanaman Bumi yang memainkan peranan penting dalam fotosintesa.

Peranan astronomi

Dalam kaitan penemuan planet yang kemudian diberi kode Gliese 581 C ini, orang bisa mengagumi teknik yang diterapkan para astronom untuk menemukan obyek sekecil ini di langit yang jauh, bahkan sampai tahu, bahwa planet ini mengorbit bintang induknya hanya dalam tempo 13 hari. Artinya, satu tahun di Gliese 581 C hanya berlangsung 13 hari. Planet tetap bisa dalam kondisi “memungkinkan untuk kehidupan”—atau dalam istilah lain tetap masuk dalam “Zona Goldilocks”—karena meski jaraknya ke Bintang hanya 1/14 jarak Bumi-Matahari (sekitar 18 juta kilometer), ia tetap tidak kepanasan. Ini karena bintang induknya redup, tidak sepanas Matahari yang suhu permukaannya hampir 6.000 derajat Celsius.

“Super-Earth” telah menimbulkan gairah baru dalam pencarian planet dan kehidupan ekstraterestrial karena ia memang berbeda dengan 200 eksoplanet yang sejauh ini telah ditemukan.

Kalau memang kehidupan ekstraterestrial bisa dikonfirmasikan, manusia Bumi jelas semakin punya harapan untuk melestarikan rasnya tanpa harus mengembangkan lingkungan seperti halnya kalau ingin hidup di Bulan atau Mars.

Bisa juga kehidupan ekstraterestrial di Gliese 581 C atau di planet lain jauh lebih canggih. Kalau hal ini yang terjadi, siapa tahu manusia Bumi bisa mengirim sinyal SOS ke penghuni di sana, dan dengan teknologi transportasi angkasa yang lebih maju, mereka bisa mengirim bantuan ke Bumi dengan lebih cepat.

Urusan pindah ke luar Bumi, di luar ada tidaknya habitat alternatif, erat terkait dengan wahana yang tersedia. Kini dengan hanya mampu membuat pesawat antariksa yang berkecepatan sekitar 100.000 kilometer per jam, bisa dihitung berapa lama wahana buatan manusia ini akan tiba di planet Gliese 581 C.

Koloni angkasa tak diragukan lagi akan terus menjadi impian manusia yang tak akan pernah padam. Dengan segala permasalahan rutin kebumian yang melilit umat manusia sekarang ini, “langkah persiapan” untuk menuju ke sana telah dilakukan oleh bangsa maju, seperti berlatih tinggal lama di ruang angkasa, yang mengekspos mereka pada keadaan tanpa gaya berat, seperti yang dialami Hawking selama 8 x 25 detik.

Namun, semua itu hanya akan ada artinya jika umat manusia pertama-tama lolos dulu dari ancaman serius yang kini tengah mengepungnya, yang juga telah disinggung Hawking, apakah itu pemanasan global atau perang nuklir. Kalau umat manusia tak lolos dari ancaman ini, akan sia-sialah rencana pindah habitat, meski penemuan Gliese 581 C memberi peluang bahwa tempat tinggal seperti Bumi ada di Semesta, walaupun sungguh nun jauh di langit sana.

sumber: Kompas

Permalink Leave a Comment

Next page »